SAVE GADGET FOR CHILD
SAVE GADGED FOR
CHILD
Oleh : Han’s
Soedibyo
“Sudah main hanphonenya,
Mas! Sudah lebih dari dua jam lo … ,” kutegur Akbar yang mulai kecanduan
gadget. Akbar adalah anak keempatku yang sekarang duduk di kelas 6 MI. Tak
tahan aku melihat dia selalu main gadget setiap pulang sekolah hingga Ashar
tiba. Semenjak hanphone kakaknya
ditinggal mondok, dia mendapat pinjaman hanphone. Selama ini gantian denganku, sehingga
tidak bisa memakai full karena hanphonennya
kupakai untuk urusan pekerjaan dan hobby menulisku. Sehingga dengan memegang hanphone sendiri, semakin tak bisa
dihentikan. Alhamdulillah dua minggu lalu hanphone kakaknya minta dikirim ke
pondok, untuk lomba. Sehingga bisa mengurangi gadgetnya. Tapi, masalah lagi
denganku, jadi harus berbagi. Jika ada informasi atau pesan tidak langsung bisa
tahu. Menunggu giliranku setelah dia mengaji.
Akibat dari lamanya dia main hanphone pelajarannya menjadi tertinggal. Belajarnya hanya
sebentar, tidak mau berpikir mendalam jika ada masalah. Jika diberitahu marah-marah,
apalagi dilarang, wah … bisa beterbangan barang-barang di dekat dia. MasyaAlloh ! Demikian buruk dampak dari gadget
ini, sebagai orangtua bahkan single parent, aku merasa tak mampu dan kalah jika
anak sudah asyik dengan gadgetnya. Semula aku bertekad untuk tidak memasang
wifi di rumah karena akan berdampak lebih daripada kuota. Kalau kuota bisa
habis, sehingga bisa dijadikan alasan agar berhenti main gadgetnya. Namun, jika
mempunyai wifi akan tiada batas. Tetapi, karena kebutuhan kuliah kakaknya yang
online, dan pertimbangan membeli kuota lebih mahal, maka terpaksa memasang wifi
di rumah. Tidak pusing lagi kuota habis, namun dampaknya bermain gadget bisa
tanpa batas, jika tidak dicereweti. Hehehe … dari lemah lembut hingga nada
tinggi jika tak tahu waktu dalam bemain gadget.
Berulangkali hanphone
kusembunyikan, tetapi dimanapun kusembunyikan dia tahu. Pernah di almari baju,
diantara lipatan baju, dia tahu, diantara buku-buku juga tahu. Pusing juga aku
dibuatnya. Oh iya, pernah kusembunyikan di tempat bumbu dapur diantara bawang
merah dan teman-temanya … hehehe …. Saking pusingnya. Terakhir aku punya ide,
dan ini ternyata manjur. Hanphone
kutaruh di saku baju yang kupakai atau di tas kecilku sehingga bisa kubawa
kemana-mana.
Subhanalloh!
betapa sulitnya kita menghindarkan anak-anak dari setan kotak ini. Begitu
dahsyat virusnya menyebar. Alhamdulillah, bulan kemarin kakaknya minta dikirim
handphonenya karena akan digunakan untuk lomba. Sehingga bisa berkurang main
hanphonenya. Namun, aku yang harus berbagi hanphone dengan dia. Sepulang
sekolah hingga Ashar tiba dia yang pegang hanphone. Sehingga jika ada pesan
penting di jam tersebut, aku tidak tahu dan tidak bisa merespon. Akibatnya,
sedikit terlambat membalas. Parahnya jika itu tugas sekolah, sebab sebagai
Kepala Sekolah Paud saja kadang bekerja seolah 24 jam, karena jika ada
pengiriman data ya … harus segera dikirim saat itu. Sehingga tak jarang kami
berebut hanphone. Hehehe …. .
Aku
sangat bersyukur karena tidak ada hanphone kakaknya, bisa berkurang banyak main
hanphonenya. Ditambah lagi dia ikut club sepakbola beberapa bulan terakhir ini.
Namun, kadang aku juga marah-marah jika yang dilihat tidak mendidik, hanya
lucu-lucuan dan joget-joget dengan lagu yang tidak sopan. Dulu aku anti mati
sama yang namanya Tik Tok. Karena kontennya tidak mendidik sama sekali. Ada sih
yang positif, namun yang cenderung dilihat anak-anak yang buruk. Nah, aku
akhirnya membuat akun Tik Tok dengan tujuan mengisi dengan konten-konten
positif untuk mewarnai dunia maya Tik Tok. Aku isi akunku dengan
kegiatan-kegiatan harian anak-anak Kelompok Bermainku dan motivasi dakwah
mengajak kepada kebaikan. Misalnya konten-konten Islami. Dengan harapan para
generasi muda pecinta Tik Tok mendapat hidayah. Kasihan mereka tidak
mendapatkan pendidikan agama dari orang tua mereka sejak dini. Sehingga produk
generasi sekarang sangat mengenaaskan.
Setiap
pulang sekolah dan aku pulang kerja, hanphone dipakai anakku. Padahal hari-hari
ini adalah saat ulangan akhir semester. Memang bisa dikurangi sih, malam tidak
minta hanphone lagi. Sebagai pelepas lelah dia dari ulangan hari itu tak apalah
main sampai ngaji tiba. Karena jika tidak bermain hanphone dia bermain di luar
rumah bersama teman-temannya. Dari bermain sepak bola, hujan-hujnan dan
berenang di sungai. Dan sampai sore juga. Namun, ini lebih ringan resikonya
daripada bermain gadget. Karena dengan bermain bersama teman-temannya bisa
menambah pengalaman baik juga ada pengaruh negative dari teman yang kurang baik.
Mayoritas sebenarnya baik, karena kami lingkungan baik, namun ada anak yang
suka berkata kurang baik, sehingga kadang terbawa ke rumah.
Nah,
apa yang kulakukan untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak keempatku
adalah :
1.
Tidak membelikan hanphone meskipun sekarang
sudah kelas 6, yang mana semua teman-temannya sudah mempunyai hanphone sendiri.
Karena menurutku jika anak mempunyai gadget sendiri akan sulit dihentikan.
Namun, jika anak berbagi dengan kita, maka akan terpaksa bisa berkurang karena
kita pakai untuk bekerja. Walaupun kadang marah-marah juga jika main gamenya
masih tanggung.
2.
Jika untuk mencari pelajaran, aku perbolehkan
karena kadang tidak ada di pelajaran sekolah. Aku sendiri tidak bisa menjawab
sehingga kehadiran teknologi gadget ini sangat membantu juga di dalam
pengetahuan. Jika tidak mengikuti perkembangan akan ketinggalan.
3.
Kadang-kadang aku melihat konten yang dia lihat
di Tik Tok, jika kurang baik juga aku tegur dan kumarahi.
4.
Kita arahkan untuk melihat hal-hal baik yaitu
konten-konten Islami. Misalnya : cerita-cerita Nabi, hafalan dsb.
5.
Dampingi dan batasi penggunaan gadger untuk anak-anak masih dibawah umur, karena
akan banyak dampak akibat kecanduan gadget. Misalnya : speech dealy,
temperamental (pemarah) dan gangguan perkembangan lainnya.
6.
Bentengi anak-anak dengan keimaan dan ketaqwaan
kepada Alloh, dengan memberikan pendidikan agama yang cukup sejak dini. Agar
bisa menyikapi pengaruh tidak baik di pergaualan baik di dunia nyata maupun di
dunia maya.
7.
Senantiasa
mendo’akan anak-anak agar terhindar dari pengaruh buruk pergaulan dengan
memohon perlindungan dan penjagaan dari Alloh SWT dimanapun mereka berada.
8.
Jika nanti anak-anak harus sekolah di luar kota,
mendo’akan mereka agar ditempatkan di lingkungan orang-orang saleh.
9.
Carikan sekolah-sekolah berbasis agama atau
memasukkan mereka di pondok, meskipun pengaruh tidak baik bisa masuk di mana
saja. Namun, paling tidak bisa mengurangi pengaruh buruk dari dunia luar.
10.
Senantiasa mengingatkan anak untuk menggunakan
gadget hanya untuk kebaikan dan memperlancar tugas sekolah serta bisa untuk
belajar hal baru melalui internet.
Sekian semoga kita dan anak-anak
bisa bijak dalam penggunaan gadget. Karena gadget adalah diibaratkan pedang
bermata dua. Jika benar penggunaannya akan bermanfaat bagi kehidupan di dunia
dan akhirt. Sebaliknya, jika salah penggunaannya akan berdampak tidak baik pada
kehidupan kita di dunia dan akhirat.
Kita tidak bisa menghindarkan diri
dari perkembangan di bidang teknologi karena takut dampak negatifnya. Justru
kita harus mengikuti setiap detik perkembangan dan kemajuan teknologi di bidang
informasi ini. Agar kita tidak tertinggal kemajuaanya, sehingga tidak salah
dalam menyikapinya.
Wallohualam bishowab.
PROFIL PENULIS
Hand’s Soedibyo lahir dan tinggal di Tulungagung. Saat ini
masih aktif mengajar di paud.
Alhamdulillah tersesat di jalan yang benar sebagai pendidik anak usia dini di
sisa usia. Semoga bisa menjadikan amal jariyah di akhirat kelak dengan wasilah
berusaha membimbing dan mendidik anak usia dini untuk mengenal Tuhannya,
agamanya dan ibadahnya. Semoga mereka kelak menjadi anak yang sholeh sholehah
sukses dunia akhirat.
Sejak 2015 mulai belajar menulis
hingga sekarang, masih berusaha untuk memperbaiki karya dengan mengikuti
berbagai kelas menulis diantaranya adalah WIN (Wong Indonesia Nulis). Selama
ini masih ada kurang lebih 16 karya antologi. Semoga segera bisa mewujudkan
buku solo. Penulis bisa dihubungi
whatshap : 082257336357 email : hand200469@gmail.com. FB : d’Auliya. Blog :
pelangikehidupan69@blogspot.com, KBM App
: d’Auliya
Motto : Menulis untuk menabur kebaikan
melalui goresan pena.
Komentar
Posting Komentar